Thursday, March 12, 2020

Cerita Rakyat Tana Toraja "Lebonna dan Paerengan Massudilalong"



Kisah cinta sehidup Semati dalam masyarakat adat Tana Toraja. Kisah cinta antara Lebonna dan kekasihnya Massudilalong Paerengan yang berakhir sangat tragis.

Lebonna, adalah seorang gadis  cantik, berkulit putih, berhidung mancung, tinggi semampai dan berambut panjang yang berasal dari Daerah Bau, Bonggakaradeng. Lebonna selalu menjadi rebutan para lelaki, namun akhirnya ia jatuh hati pada seorang lelaki tampan, pemberani dan sakti bernama Massudilalong Paerengan. Dalam jalinan hubungan asmaranya, kedua sejoli ini mengikat janji untuk sehidup semati, dan saat meninggal nanti, keduanya harus dimakamkan dalam satu peti mati.
Seiring berjalannya waktu, hubungan asmara keduanya, banyak membuat pria yang cemburu terhadap Paerengan yang berhasil merebut hati Lebonna, begitu juga banyak wanita yang cemburu terhadap Lebonna yang berhasil merebut hati Paerengan, pemuda tampan dan pemberani.
Namun, takdir berkata lain saat muncul kabar bahwa daerah tetangga akan melakukan penyerbuan, dan Paerengan yang memang dikenal sebagai ksatria, diminta untuk memimpin pasukan. Merekapun berangkat ke medan pertempuran untuk berperang (Mangrari).

Sementara itu Lebonna tinggal di Kampung sambil menenun menunggu kekasihnya kembali. Namun, saat terjadi pertempuran, salah seorang anak buah Paerengan diam-diam lari dari medan pertempuran, dengan maksud merebut Lebonna dengan menyampaikan kabar bohong mengenai kematian Paerengan, kepada Lebonna dengan berpura-pura menunjukan raut muka bersedih.
Mendengar kabar tentang kematian sang kekasih,Lebonna sangat terkejut dan tidak sanggup menerima kabar tersebut. Bahkan ia sampai mengurung diri dan tak mau makan selama beberapa hari. Usaha anak buah Paerengan yang kabur dari medan perang itu ternyata tidak membuahkan hasil.Lebonna tak bergeming sedikitpun untuk dibujuk ataupun dirayu karena cintanya memang hanya untuk Paerengan. Tiap malam Lebonna selalu teringat akan janji yang telah ia sepakati bersama kekasihnya, Paerengan. Dan akhirnya, ia menepati janjinya untuk sehidup semati dengan kekasihnya dengan cara gantung diri.

Setelah tewas dan memilih gantung diri, demi membuktikan cinta sucinya, sebelum dimakamkan jenazah Lebonna terlebih dahulu harus melalui prosesi “dialuk”, kemudian dimakamkan di sebuah Liang batu, tepatnya di desa Salu Barana, Lembang Bua Kayu. pada saat mayat Lebonna di masukkan kedalam Liang, Pintu baru tiba-tiba tertutup rapat, dan rambut panjang Lebonna masih terurai keluar sampai bibir Gua. Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, saat itu Lebonna masih belum rela masuk ke dalam Liang tanpa ditemani Massudilalong Paerengan, sang kekasih yang sudah mengikat janji dengannya untuk sehidup semati.

Paerengan pun kembali dari medan peperangan dengan kabar kemenangan, dan langsung menuju ke rumah Lebonna, kekasihnya yang sangat ia rindukan. Namun alangkah terpukulnya Paerengan, Lebonna gadis yang sangat ia cintai telah pergi untuk selama-lamanya. Setelah mengetahui Kekasih telah tiada, kehidupan Paerengan sangat tidak menentu. Dia yang dikenal sebagai kesatria sejati dan sangat disegani, kini hidup dalam kondisi tertutup. Setiap hari ia selau bersedih, dan menyendiri. Paerengan harus memilih memenuhi janjinya sehidup-semati dengan Lebonna atau hidup untuk membela wilayahnya wilayahnya dari serangan musuh.

Hari-haripun berlalu, seorang bernama Dodeng, Pembantu Paerengan yang sangat dekat dengan Paerengan. Dodeng memiliki sebuah pohon enau yang berdekatan dengan Liang kubur Lebonna. Pada suatu ketika, Dodeng terlambat mengambil nira/tuak,sehingga ia harus berangkat setelah sore hari. Saat mengambil Tuak, Dodeng mendengar suara yang tidak asing, suara yang ia ketahui dan kenal sebagai suara Lebonna. Sebagian masyarakat Toraja percaya bahwa arwah seseorang yang meninggal dengan cara bunuh diri akan tidak tenang, seperti halnya arwah Lebonna.
Dodeng mendengarkan suara jeritan Lebonna mengenai kekasihnya yang belum memenuhi janjinya untuk sehidup-semati.

Pesan Lebonna kepada Massudilalong melalui Dodeng tersirat melalui lirik sebuah lagu, Hei.. Dodeng yang mengambil tuak, hentikanlah dahulu aktivitasmu…. Dengarlah pesan deritaku… untuk kekasihku Massudilalong…. Katanya akan sependeritaan… Juga sehidup-semati…. Tapi semuanya cuma hampa… saya telah lama mati, bunuh diri karena janji… sementara dia masih hidup.
Dodeng yang mendengar suara rintihan penuh permohonan itu, tak sanggup berbuat apa-apa. Ia terpaku. Saat tersadar, ia langsung lari ke rumah Paerengan dan tak sempat mengambil tuak lagi. Sesampainya di rumah, ia langsung keringat dingin dan jatuh sakit.

Namun Pesan Lebonna untuk kekasihnya tidak langsung disampaikan Dodeng, karena masih kurang percaya dengan apa yang ia dengar. Ia khawatir itu hanya khayalan belaka, kendati itu sempat membuatnya jatuh sakit. Akhirnya Dodeng kembali mencoba untuk mengambil ballo atau tuak, namun kali ini ia lebih awal datang. Alangkah terkejutnya Dodeng, suara itu kembali ia dengarkan padahal belum terlalu gelap (malam). Mendengar suara sedih yang berintihkan tentang pesan itu, Dodeng lalu mengambil langkah seribu tanpa menbawa tuak.

perubahan sikap Dodeng membuat Paerengan curiga. Ia kemudian mendesak Dodeng untuk menceritakan apa yang terjadi padanya, Dodeng pun tak tahan dan menyampaikan hal tesebut kepada Paerengan. Tak yakin dengan cerita Dodeng, Paerengan pun ingin membuktikannya, sehingga keesokan harinya saat sore hari Paerengan ikut bersama Dodeng ke pohon enau, yg tak jauh dari pemakaman Lebonna. Setelah Dodeng naik keatas pohon enau, suara itu kembali terdengar. Paerengan yang dating secara diam-diam mendengarkannya dengan jelas. Setelah mendengar langsung pesan Lebonna itu, Paerengan pun langsung ke rumahnya, masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.ia sangat terpukul karena lalai dari janji setia yang telah disepakatinya bersama Lebonna kekasih yang sangat dicintainya.

Tak menunggu lama Paerengan sang panglima perang meminta agar semua pasukannya berkumpul dengan membawa tombak, ia beralasan akan melaksanakan upacara merok yaitu ritual dengan menyembelih kerbau dengan cara ditombak.
Esoknya, semua tentara berkumpul di lapangan terbuka. Semua keluarga Paerengan juga hadir. Saat itu, puluhan kerbau telah disiapkan, para tentara juga telah membawa tombak masing-masing. Paerengan kemudian meminta agar semua tentaranya menancapkan tombak dengan posisi mata tombak keatas.

Saat semua warga dan tentara berkumpul, diam-diam Paerengan naik keatas atap pendopo yang memang sudah ada sebelumnya. Mereka menyangka paerengan akan menyampaikan pidato, namun ternyata paerengan justru melompat tepat diatas ratusan ujung tombak yang telah ditancapkan.
Paerengan pun tewas secara tragis, dan ia pun telah memenuhi janjinya. Pada saat Paerengan dimakamkan terjadi suatu keanehan, paerengan dimakamkan terpisah dengan tempat Lebonna dimakamkan, namun anehnya jenazah Paerengan selalu muncul lagi dirumahnya secara tiba-tiba. Kejadian ini terjadi tiga kali, sampai akhirnya Dodeng menceritakan semua kejadian yang sebenarnya termasuk suara yang didengarnya saat hendak mengambil tuak. Setelah dimakamkan satu liang dengan Lebonna, barulah arwah Paerengan menjadi tenang.

Pesan moral yang kita dapat dari cerita rakyat tersebut adalah:
1. Pentingnya kejujuran dan kesetiaan
2. Jangan sekali-kali mengumbar janji yang belum tentu kita sanggup tepati.

SUMBER: 

No comments:

Post a Comment